Yah, sepi dan rasa adalah 2 kata yang seolah menyatu dalam ruang perasaan sehingga lahir sebuah kata yaitu Rasa Kesepian.
Nah, rasa kesepian bagaikan pohon tak berdaun atau air yang tak berasa, ia hambar dalam kehidupan, mengambang dalam zona harapan atau menggantung dalam radar impian.
Namun rasa sepi ini tak lazim bahkan tak elok bila kita sandingkan dengan kata sendiri.
Yah, sendiri bukan lah alasan untuk kita menyepi, terkadang sendiri tanpa bertemankan kekasih lebih menyenangkan karena memiliki peluang atau waktu untuk hal di luar itu, radar pertemanan tak berperaturan lalu kekang sosial tak akan muncul terdengar oleh karena sebuah kesendirian.
Sendiri memanglah terlihat mengenaskan apalagi bila di kaitkan dengan seseorang dan berkaca pada teman.
Bila sendiri bagaikan dulang yang kosong, centang perenang tak bermakna, itu karena di tinjau dari sudut yang sempit saja.
Lebih dari itu, bila fase sendiri di isi dengan sebuah kekreatifan yang bermanfaat dan bernilai kebaikan, maka sendiri dapat menjadi proyek untuk memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Gejolak hati dalam sanubari berkemaskan sepi, bukanlah alasan untuk lemah lantas mundur lalu menyepi oleh karena sendiri, sendiri bukan pula lampu merah lalu berhenti dalam perjuangan hidup ini.
Lihatlah matahari ia pun sendiri namun pernahkah ia bosan untuk terus bersinar dan menyinari?
Tak selamanya sendiri itu sepi dan tak semua sepi oleh karena sendiri. Tetaplah semangat jalani hidup ini meski dg sendiri sebab dunia terlalu luas untuk sebatas direnungi, bangkitlah lihat indahnya alam ini.
Maka saya pribadi berprinsip dalam jodoh, " Bila kau tak menemukan Cinta, biarlah Cinta yang menemukan kau ".
-achmad ibnu mimbar.
Tentang aku,kamu, dan kita
ReplyDeleteCeritanya bagus dapat menarik pembaca, bahasanya juga luas,..terus berkarya ka
ReplyDelete