Friday, January 22, 2021

Rindu Tak Terbalaskan.

 Sepatah kata dalam lembar kertas yang kutulis dengan cinta, tatapan mata hanya  tertuju pada putih bersih tak bernoda, perlahan ku gores dengan tinta agar pena bercerita untuk mewakili rasa. Tak ada suara yang kudengar kecuali bunyi tarian pena yang seolah tertawa beriring duka memeluk memori warna yang pernah terukir dengannya.
  Sayup mata mulai bercerita tatkala airmata berjalan menyapa telinga dengan sabdanya, sabda yang tak terdengar oleh telinga tidak berbunyikan suara dan tidak pula terukir oleh tinta namun terasa oleh sanak anggota lainnya. Karena nya mata dapat terpejam, lisan akan terbungkam, batin seolah tertikam bahkan tubuh terbelenggu jerat diam.
 Berkelahi dengan suasana hati, ingin berucap namun tak kuasa diri lalu memilih sembunyi dalam coretan dairy. Kau terlihat begitu kuat untuk bersembunyi dengan jerat dirimu sendiri namun sampai kapan hati dan dirimu kau bohongi? 

  Asa ingin bertemu, kata ingin mencumbu, jiwa ingin bersandar pada bahumu dengan helaian rambut yang ku sebuk bila itu, namun semua itu hanyalah halu yang bernama kan rindu.
 Rindu adalah sihir tak bermantra, namun pekat untuk dirasa, ia menghampiri siapa yang di kehendaki nya, jarak bukanlah lagi persoalannya, karena pulau di seberang samudra pun kan seolah hanya selangkah saja. 
 Apakah ada lagi kisah pilu dari Cinta bertepuk sebelah tangan? ku jawab, Ya ada, ialah Rindu tak terbalaskan. 
 Menahan beratnya kerinduan memang bukanlah puncak dari perasaan, namun pernah kah kau bayangkan bila kerinduan hanya berpijak pada sebelah insan? berteriak dalam pikiran, menyayat hati dengan pisau harapan, membunuh dirimu perlahan dengan racun kerinduan tak terbalaskan. 
 Menutup hati dengan paksaan tak semudah melempar batu ke tepi sungai, emosi terlemparkan lalu rasa terlupakan. Namun, ini tentang kisah perjalanan Cinta ia tumbuh tiba tiba, mekar tanpa duga, lalu pudar tanpa iba. Ia parasit yang ku pelihara dengan Cinta walau menggerogoti jiwa tapi hati enggan melepasnya. 
 Wahai pemilik hati yang kurindui, ada salam dalam diam, dalam diam ku menyapa, lewat sapa kuberdo'a, dengan do'a kubisikan tentang harapan, harapan hanya agar Rinduku Terbalaskan.

-----------
 Pesanku bila kita merindukan seseorang dalam rindu itu ada rasa maka tak ada upaya hanyalah doa. Karena manusia semakin kita kejar bila ia tak sadar maka hanya membuat hati sukar, berjuang sewajarnya lalu temukan titik dimana kamu harus berhenti dan memperbaiki diri lalu yang kamu harus lebih yakini tuhan menyiapkan orang yang terbaik untukmu nanti. 

Sekian terimakasih. 

 Dan teruntuk temen yang menyempatkan waktu untuk membaca tulisan ku ini atau sekedar mampir pun matur nuwun sekali. 
Kalau mau request DM aja lewat e-mail ku ya. 

Semangat membaca, dan nantikan tulisanku di episode selanjutnya teman. 

Bye salam coretan tintaku 😉
Wassalamualaikum wr wb.
 



Syair Mencintainya dalam Diam

أحببتها والصمت يحرق مهجتي ودموع عيني في الخفاء تسيلُ كم كنت أرجو أن أبوح بحبها لكنّ صوتي بالدجى مقيّلُ أرنو إليها من بعيدٍ خاشعًا والقلبُ يض...